Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati sebuah hari yang mengagumkan, yaitu Hari Pahlawan. Sebuah hari di mana kita semua memperingati perjuangan para pahlawan kita yang rela mati untuk menyelamatkan bangsa ini dari tangan penjajah.
Teman-teman tahu, apakah makna spesial di balik kata ‘pahlawan’? Orang yang bertempur di medan perang? Orang yang rela mati untuk bangsa? Orang yang melakukan pergerakan-pergerakan yang bersejarah? Itu semua terlalu rumit. Kita tidak akan dapat menyerap makna kata ‘pahlawan’ itu secara benar. Lalu apakah yang terjadi apabila kita tidak dapat menyerap makna kata ‘pahlawan secara benar? Jawabannya: kita tidak akan bisa menjadi pahlawan dalam hidup ini.

Apakah semua orang harus jadi pahlawan? Jawabannya: MUTLAK, YA.
Sekarang kita bahas, apakah makna kata ‘pahlawan’. Pertama, pahlawan adalah seorang yang selalu menanamkan di dalam dirinya bahwa ia adalah pemenang. Apakah ia sungguh-sungguh menang? Sepertinya tidak, toh banyak pahlawan kita yang kalah dan mati di medan perang. Lalu, mengapa mereka menganggap dirinya pemenang? Kunci kemenangan mereka adalah di dalam diri mereka. Apapun masalah dan kehancuran yang menimpa diri mereka, mereka tetap percaya bahwa mereka menang. Sekalipun mereka tampak kalah, di dalam hati dan pikiran mereka hanya ada satu kata, yaitu ‘kemenangan’. Ini adalah mental yang luar biasa dan bisa kita terapkan dalam kehidupan kita. Apapun penderitaan yang kita alami, apapun permasalahan yang terjadi dalam hidup kita, dan apapun kehancuran dan kegagalan yang kita alami, apakah kita sanggup memiliki mental seorang pahlawan, yang adalah mental seorang pemenang? Apakah teman-teman tahu? Kualitas mental kita diukur ketika kehancuran itu datang menimpa kita. Apakah kita masih bisa berkata: aku kuat, aku menang, aku sukses, aku bahagia…? Ketika kita masih bisa berkata seperti itu di tengah-tengah kehancuran yang kita alami, berarti kita mempunyai bakat untuk menjadi seorang pahlawan.
Kedua, pahlawan adalah seseorang yang selalu membunuh egonya sendiri. Egonya, mati. Fokus hidup kepada dirinya, mati. Ia tidak pernah memikirkan nasib dirinya sendiri. Ia tidak pernah memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah mengenal kata ‘aku’. Yang ada di dalam benaknya adalah bagaimana kepentingan orang banyak bisa dipenuhi, bagaimana orang banyak dapat menikmati kehidupan yang layak, dan bagaimana ia dapat melakukan sesuatu untuk mereka yang membutuhkan. Fokus hidupnya ditujukan kepada kepentingan orang banyak. Ia tidak memikirkan bagaimana ia akan menderita, bagaimana ia akan disiksa, dan bagaimana ia akan mati. Ia rela menerima itu semua asalkan orang banyak bisa hidup berbahagia. Mengapa ia melakukannya? Satu alasan yang membuat ia bersemangat untuk mengalami itu semua adalah karena itu adalah hal yang MULIA. Ia melakukan hal-hal yang mulia. Apakah teman-teman tahu? Segala sesuatu yang mulia memiliki nilai yang kekal. Ia mengejar sesuatu yang kekal, bukan sesuatu yang bersifat sementara. Hal-hal yang berhubungan dengan pemuasan egonya adalah sementara dan hal-hal yang mulia adalah kekal. Ia lebih memilih yang kekal itu walaupun kehancuran demi kehancuran terhadap dirinya pasti akan ia alami. Tetapi, ia percaya apa yang telah ia lakukan untuk mereka yang membutuhkan adalah hal yang mulia dan bernilai kekal. Nah, sanggupkah kita menjadi pahlawan seperti itu? Sanggupkah kita membunuh ego kita sendiri. Kita harus meniru teladan hidup yang luar biasa ini. Saya mengajak teman-teman semua untuk merenungi hal ini dan memeriksa kembali kepada diri kita, apakah kita sudah benar-benar menjadi seorang pahlawan dalam hidup ini.


Terima kasih dari sketsa pahlawan anada saya jadi bisa menginspirasi anak untuk melukis sketsa imam bonjol….
Oleh: Hari Saptomo on Agustus 2, 2009
at 1:56 pm
Bagus betul!
Oleh: Orang on Oktober 15, 2009
at 12:38 pm